Google+

The Roasted Corn Audition

Tinggalkan komentar

The Roasted Corn Audition

By: Kim Yunha

“Rena!” teriak seorang cowok yang menghentikan langkah seorang cewek. Cewek itu menoleh dan tersenyum melihat cowok yang memanggilnya. Dia berjalan cepat setengah berlari menghampiri si cowok dengan senyum terkembang.

“Hai, sayang! Kok kamu nggak jemput aku sih? Nggak kasih kabar lagi! Aku pikir kamu kenapa-napa. Kita…”

“Kita putus!” si cowok berkata dengan wajah polos.

“Eh?” Rena bengong mendengar kata-kata cowoknya. Sepertinya dia tidak mengerti apa yang terjadi sampai cowoknya minta putus. “Kamu ngomong apa?”

“Ki-ta pu-tus!” eja si cowok sambil menatap ceweknya yang sedang terperangah.

“Kenapa, Just? Emang aku salah apa?” tanya Rena sedih. Ternyata dia memang tidak tahu apa yang terjadi.

“Kamu nggak salah apa-apa. Tapi kita emang nggak cocok. Udah, ya! Daaa…!” Justin pergi ke kelasnya meninggalkan Rena sendiri yang masih bingung dengan apa yang terjadi. Tidak terlihat rasa sedih sedikitpun di wajahnya. Dia malah masuk ke kelasnya dengan santai seolah-olah tidak terjadi apa-apa pagi ini. Padahal dia baru saja putus dari ceweknya. Jangan-jangan Justin tidak pernah suka sama Rena sehingga gampang sekali bilang putus. Atau dia memang cowok yang menganut aliran playboyisme!

“Hei, Just! Gimana kemaren? Ada perubahan?” tanya Adit teman sebangku Justin. Mereka duduk sebangku sudah lama sekali, dari kelas satu SMP sampai sekarang kelas dua SMA. Jadi wajar kalau mereka sangat dekat. Sudah seperti orang pacaran, kemana-mana selalu berdua. Untung si Justin sering gonta-ganti cewek! Kalau tidak, bisa-bisa mereka dikirain homo! Gawat kan?!

“Ah… sama aja! Nggak ada bedanya! Jangan-jangan semua cewek memang kayak gitu!”

“Lagian lo sih maunya yang aneh! Dimana-mana cewek itu bersih, nggak ada yang jorok!”

“Woi! Gue bukannya mau cewek jorok, tapi gue mau cewek yang nggak jaim! Yang kemaren itu parah banget! Baru gue tawarin aja dia langsung nolak! Ya udah, langsung gue putusin paginya.”

“Ha? Lo langsung mutusin tuh cewek? Pagi ini?” Justin menjawab pertanyaan Adit dengan anggukan. “Wah, gila lo, man! Jahat banget lo! Hari ini kan anak kelas tiga ada Try Out! Kalau nilainya jeblok giman? Kasihan kale!”

“Bukan urusan gue! Lagian gue juga nggak pernah mikir buat pacaran sama cewek yang lebih tua.”

“Terus kenapa kemaren lo pacarin?”

“Ya… gue pikir dia orangnya nggak jaim sampai mau pacaran sama berondong. Tahunya sama aja!”

“Justin! Justin! Mau sampai kapan lo nyari cewek yang nggak jaim? Kalau nggak ketemu-ketemu gimana?”

“Gue pacarin lo aja! Lo kan nggak tahu malu!” jawab Justin sambil tertawa terbahak-bahak.

“Enak aja! Gue masih doyan cowok kale! Eh salah, maksud gue cewek!”

“Hahaha… Alah… jujur aja! Kata-kata pertama itu biasanya berasal dari hati nurani. Jangan-jangan selama ini lo suka sama gue, ya?”

“Najis lo! Pergi sana! Amit gue suka sama lo! Kayak nggak ada cewek aja!”

“Cewek memang banyak, tapi lo nya aja yang nggak laku! Hahaha…..!”

***

Gosip Justin dan Rena putus suduh menyebar ke saluruh sekolah. Di berbagai tempat ada saja geng-geng cewek yang sedang membahas gosip ini. Seperti biasa, mereka pusing dengan tingkah Justin. Justin bisa dibilang cowok paling ganteng di sekolah dan paling sering gonta-ganti pacar. Dan parahnya, waktu dia pacaran itu sebentar. Cuma satu minggu, paling lama dua minggu. Rata-rata cewek-ceweknya diputusin setelah diajak makan jagung bakar. Biasanya cewek yang nggak mau makan jagung bakar pacarannya satu minggu, tapi bagi yang mau makan jagung bakar pacarannya sampai dua minggu. Walaupun begitu, cewek-cewek masih tetap mau mengantre untuk jadi pacar Justin. Memang sih cuma satu atau dua minggu, tapi yang pentingsudah pernah merasakan bagaimana rasanya jadi cewek Justin. Entah cewek-ceweknya yang “dodol” atau memang Justinnya yang sebegitu menariknya sehingga cewek-cewek itu jadi pada “dodol”.

“Nggak ke kantin, bos?” tanya Adit melihat Justin tetap duduk di kursinya saat bel istirahat berbunyi. Biasanya dia tidak akan menyia-nyiakan waktu istirahat dengan cuma duduk di kelas.

“Males gue ke kantin. Pasti semua cewek lagi pada sok tebar pesona ke gue.”

“Alah! Biasanya lo malah senang. Kan ini sarana lo buat cari cewek?”

“Setelah gue pikir-pikir, semua cewek yang pernah gue pacarin pasti cewek centil. Mungkin karena itu gue nggak pernah dapet cewek yang nggak jaim. Karena cewek centil udah pasti jaim. Nah, rata-rata cewek-cewek di sekolah ini pada centil semua. Kalau pun ada yang nggak centil, jumlahnya cuma sedikit. Jadi gue nggak mau cewek-cewek yang tebar pesona itu jadi cewek gue. Sekarang gue benar-benar harus cari sendiri.”

“Jadi lo mau kemana sekarang?”

“Nggak kemana-kemana. Udah sana lo! Lo mau ke kantin  kan? Gue titip siomay, ya!”

Akhirnya Adit pun pergi ke kantin sendirian. Kantin cukup jauh dari kelas Adit dan Justin. Adit harus melewati kelas satu, lapangan basket dan kantor guru terlebih dahulu sebelum sampai di kantin. Saat lewat di depan kantor guru, Adit hampir menabrak seorang cewek yang baru saja keluar. Sepertinya cewek itu bukan siswi sekolah ini, karena dia tidak memakai seragam sekolah. Dia sangat cantik sampai-sampai Adit tidak berkedip memandangnya. Karena kikuk terus dilihat Adit, cewek itu minta maaf dan pergi. Adit masih melihat cewek itu sampai dia tidak terlihat lagi. Setelah itu Adit baru sadar tujuannya adalah kantin. Dia berjanji tidak akan menceritakan kejadian ini ke Justin, nanti cewek itu malah diambil Justin.

“Semoga Justin nggak ketemu sama cewek itu.” harap Adit.

***

“Selamat pagi anak-anak!” Bu Lisa berdiri di depan kelas dengan wajah berseri-seri. Anak-anak di kelas itu bingung kenapa Bu Lisa masuk ke kelas mereka, hari ini kan tidak ada pelajaran biologi. Bu Lisa memang wali kelas mereka, tapi kan wali kelas tidak wajib masuk ke kelas setiap hari. “Hari ini kalian dapat teman baru dari luar kota. Nah, ayo silakan masuk!”

Seorang cewek masuk ke kelas itu. Cewek itu putih bersih, tidak terlalu tinggi tapi langsing. Dia memakai tas, jam, ikat rambut dan kacamata berwarna kuning. Sepertinya dia sangat menyukai warna kuning. Adit terkejut melihat cewek itu. Ternyata cewek itu adalah cewek yang kemaren tabrakan dengan Adit di depan kantor guru. Senyum merekah di wajahnya. Dia merasakan ada sesuatu yang bergejolak di dadannya. Tapi dia menepis perasaan itu. Karena dia pikir tidak mungkin cewek itu memilih dia kalau di sampingnya ada Justin. Tidak mungkin ada cewek waras yang lebih memilih dia daripada Justin. Adit memang tidak jelek, tapi kalau dibandingkan dengan Justin, dia kalah!

“Pagi semua! Nama saya Keisya Vresiana. Teman-teman bisa panggil saya Keisya.” terdengar cewek itu memperkenalkan diri. Suaranya yang merdu kembali membuat hati Adit bergejolak.

“Baiklah! Kamu duduk di….” Bu Lisa sedang memilih dimana sebaiknya Keisya duduk. Dan pilihannya jatuh pada bangku kosong yang berada di barisan ke tiga dari kanan. Tepat di samping bangku Adit. Anak-anak menahan tawa saat itu. Sebelumnya bangku itu ditempati seorang cewek pendiam yang sekarang sudah pindah karena tidak betah dikerjain teman-temannya. Tidak ada yang mau duduk di sana. Alasan mereka karena nanti takut ketularan pendiamnya.

“Semoga aja cewek itu bukan cewek cupu! Sayangkan, cantik-cantik tapi cupu.” bisik Justin ke Adit. Adit hanya membalas perkataan Justin dengan senyum tipis. Dia merasa harapannya benar-benar akan pupus. Tadi Justin bilang kalau si Keisya cantik. Itu berarti Keisya sudah menjadi target Justin berikutnya.

“Hhh…” Adit menghela napas.

“Kenapa lo? Kayak orang kehilangan semangat aja.” Adit bingung mau jawab apa. Tidak mungkin kan dia bilang kalau dia takut bersaing dengan temannya itu. Untung Guru Fisika sudah masuk, jadi Adit tidakperlu menjawab.

Baru hari pertama sekolah, Keisya sudah bisa mengambil hati para guru dengan otaknya yang cerdas. Dia juga sudah bisa mengambil hati teman-temannya dengan sikapnya yang ramah dan sangat gaul. Ini menambah nilai Keisya di mata Justin apalagi Adit yang sudah jatuh hati saat pandangan pertama. Tapi Justin belum beraksi pada hari pertama ini. Dia masih ingin mengetahui sifat-sifat Keisya yang lainnya. Begitu juga dengan Adit. Bahkan untuk memikirkannya saja dia tidak mau. Dia takut harapannya akan pupus begitu saja. Jadi dia mencoba mengalihkan perasaannya yang dia kira hanya akan bertepuk sebelah tangan.

“Hei! Keisya.” Keisya mengulurkan tangannya kepada Adit untuk berkenalan.

“Ehm… Adit.” Adit membalas uluran tangan Keisya dengan sedikit gugup. Dia tidak menyangka akandihampiri Keisya saat sedang sendiri seperti ini.

“Kok ke kantin sendiri aja? Nggak bareng teman sebangku lo? Eh, gue boleh duduk di sini kan?”

“Boleh.” Adit sedikit bergeser supaya Keisya bisa duduk di sampingnya. Dia sedikit lemas mendengar pertanyaan Keisya tadi. Ternyata Keisya mendekatinya untuk bertanya tentang Justin. Huuuh! Sepertinya Adit tidak memiliki harapan! “Ehm… Justin lagi malas ke kantin. Kenapa lo tanya dia? Naksir, ya?” goda Adit berusaha mencairkan suasana.

“Naksir? Kenal aja belom. Nggak, abis dari tadi gue lihat kemana-kemana lo berdua melulu sama dia. Makanya gue heran kenapa lo sendiri di sini.”

“Eh? Ehmm… Kita memang udah dekat semenjak SMP. Sebangku terus.”

“Ha? Serius? Nggak bosan sebangku terus?”

“Nggak, anaknya asik. Kita udah kayak udah saudaraan.”

“Oh… enak, ya! Gue nggak pernah tuh punya teman dekat, apalagi sampe lebih dari tiga tahun kayak lo.”

“Emang kenapa?”

“Bokap gue kerjanya pindah-pindah kota melulu. Jadi sekolah gue juga pindah-pindah, mana bisa punya teman dekat selama itu.”

“Oh…” Adit diam, dia tidak tahu lagi apa yang mau dibicarakan. Wajarlah, belum dekat. Jadi belum banyak bahan pembicaraan. Sudah lima menit waktu berlalu. Mereka berdua hanya menikmati makanan masing-masing. Sampai seorang cowok datang mencairkan suasana.

“Ternyata lo di sini! Gue cariin dari tadi! Eh ada Keisya! Kenalin, gue Justin.” Justin mengulurkan tangannya ke Keisya.

“Keisya.” Keisya menyambut uluran tangan Justin.

“Pantas lo betah lama-lama di kantin, tahunya ada cewek cantik yang nemenin.” Kata Justin sambil duduk di hadapan Keisya. Adit tidak menanggapi guyonan Justin dia tetap lanjut menyantap makanannya sambil mengomel dalam hati mengutuk Justin yang datang mengganggu. “Lo pindahan darimana Kei?” tanya Justin membuka obrolan.

“Dari Bogor.”

“Oh… kenapa pindah?”

“Biasa, orang tua gue pindah tugas. Padahal gue tetap mau tinggal di Bogor, tapi nggak dibolehin. Alasannya karena gue anak cewek, katanya ntar nggak ada yang jagain, padahalkan gue bisa jaga diri sendiri! Gue kan udah gede!”

Calm down, girl! Santai aja!” Justin berusaha menenangkan Keisya yang sepertinya mulai naik darah.

“Orang tua lo benar, Kei! Lo kan perempuan, masa ditinggal sendirian di Bogor. Ntar kalau lo diapa-apain, gimana?” komentar Adit.

“Ya ampun, Dit! Gue tuh udah gede, gue bisa jaga diri. Lagian siapa yang mau ngapa-ngapain gue? Bogor tuh rame kali!”

“Justru itu, Kei! Karena Bogor itu rameorang tua lo jadi takut. Nggak semua orang baik kan? Gimana ntar kalau lo baru pulang sekolah tiba-tiba ada yang nyulik lo? Gawat kan?!”

“Ya ampun, Adit! Gue bisa pulang pake taksi atau pake mobil sendiri kan?”

“Iya, tapi kan….”

“Wahhh debat kusir nih!” potong Justin. “Maklumin aja ya, Kei. Adit memang orangnya kayak gitu. Protect banget!”

Adit hanya diam mendengar komentar Justin. Dia menikmati makanannya yang pasti sudah tidak terasa enaknya lagi. Bagaimana bisa merasakan enak kalau hatinya terus mengomel melihat Justin yang sudah mulai dekat dengan Keisya.

***

Sudah lebih dari sebulan Keisya menjadi anak baru di kelas Justin dan Adit. Sekarang mereka sangat dekat seperti teman yang sudah lama kenal. Selama itu juga Justin menjadi seorang jomblo. Hebat, kan? Ini rekor terlama Justin jadi jomblo lho… biasanya nggak lebih dari seminggu Justin sudah dapat cewek baru. Kenapa, ya? Jangan-jangan ada sesuatu nih…

Yup!! Benar sekali ! Memang ada sesuatu yang terjadi pada Justin ! Dan sesuatu itulah yang membuat Adit sedikit murung akhir-akhir ini. Ternyata Justin terinfeksi virus merah jambu! Dan yang menyebarkan virus itu adalah KEISYA VRESIANA!!!

Justin mencurahkan isi hatinya itu ke Adit yang menanggapinya dengan pura-pura bahagia. Yup, hanya pura-pura. Karena sebenarnya dia terinfeksi virus yang sama dari orang yang sama. Justin tidak menyadari masalah yang terjadi diantara mereka, karena Adit sangat lihai menyembunyikan perasaannya.

Bagaimana dengan Keisya? Nggak ada yang tahu apa yang dirasakan Keisya terhadap dua orang cowok yang baru-baru ini dekat dengannya. Yang pasti, dia merasa nyaman berada di dekat mereka. Menurutnya Justin orang yang asik diajak bicara, kocak dan humoris. Berada di dekatnya membuat Keisya yang sedih menjadi tertawa. Tapi sayangnya, Keisya jadi punya banyak rival di sekolah. Karena cewek-cewek yang naksir Justin merasa tersaingi. Mereka menganggap Keisyalah yang menyebabkan Justin tidak pernah melirik mereka. Justin biasa saja dengan keadaan ini, tapi Keisya sangat terganggu. Kadang-kadang saat dia sedang ke toilet, para fansnya Justin sering mengurungnya. Untung Adit selalu menjadi protector yang baik untuknya. Jadi apapun yang dilakukan fans Justin, Keisya tidak pernah takut, kan ada Adit yang selalu menjaganya.

Adit selalu siap kapanpun Keisya membutuhkannya. Dia merasa nggak ada lagi yang bisa dilakukannya selain menjaga Keisya. Adit yakin kalau suatu hari Justin mengungkapkan perasaannya ke Keisya, pasti diterima. Belum ada sejarahnya Justin ditolak cewek, yang ada cewek ditolak Justin.

Pagi ini sekolah masih sepi. Keisya selalu datang lebih awal supaya tidak diganggu sama fansnya Justin. Dia mulai memindahkan buku-buku bawaannya ke dalam laci meja, lalu menyampirkan tasnya ke kursi. Keisya menghidupkan kamera digitalnya dan melihat-lihat foto hasil karyanya. Dia memang masih amatiran di bidang photografi, tapi itu tidakakan membuat Keisya menyerah untuk melanjutkan hobinya.

“Foto baru, Kei?” tanya Adit yang tiba-tiba datang dan duduk disampingnya.

“Eh? Nggak… jangan lihat donk….” Keisya gugup seperti ketahuan sedang mengintip orang.

“Lo kenapa? Biasa aja lagi. Ehm… foto apa tuh? Kok gue nggak boleh lihat?” Adit mulai menjahili Keisya dan berusaha merebut kamera.

“Adit! Nggak boleh!”

“Lihat sebentar aja!”

“Nggak boleh!”

“Lihat!”

“Nggak!”

“Woi! Pagi-pagi udah ribut! Ributin apa?” Justin datang tiba-tiba dan mengalihkan perhatian mereka berdua. Keisya mengambil kesempatan itu untuk merebut kamera yang sudah berhasil direbut Adit dan langsung kabur ke luar kelas.

“Kenapa dia?” tanya Justin heran. Adit tidak menjawab pertanyaan Justin dan langsung mengikuti Keisya ke luar kelas. “Dit! Mau kemana, lo?”

“Ke kantin, gue belum sarapan.”

Kantin masih sangat sepi jam segini. Tentu saja belum banyak murid yang datang. Tapi penjaga kantin selalu stand by melayani murid-murid yang kelaparan. Adit memesan sepiring nasi goreng dan segelas teh hangat. Sedangkan Justin hanya membeli makanan ringan.

“Ada yang mau gue omongin.” Justin memulai obrolan dengan wajah berseri-seri.

“Lihat muka lo, pasti soal cewek.” Adit menebak sesuatu yang memang sudah sering terjadi.

“Yup! Benar! Gue mau nembak cewek lagi, man!” kata Justin bersemangat sambil menepuk meja.

“Katanya nggak mau sama cewek centil… atau bukan anak sini?”

“Anaksini. Dia satu-satunyacewek yang gue temui di sekolahini tapi nggakcentil.”

“Siapa?”

“Masa lo nggaktahu?Guekan dah pernahceritasama lo…. KEISYA!!!” tepatsaat Justin menyebutnamaKeisya, Adittersedakdanmenyemburkantehhangat yang sedangdiminumnya.

“Lo kenapa?”Justin mengambiltisu yang ada di atasmejadanmenyerahkannyakeAdit.

“Lo maunembakKeisya? Memangnya dia nggak jaim?” Adit tidak bisa menyembunyikan perasaan terkejutnya. Dia tidak menyangka Justin akan bertindak secepat ini. Kalau Justin sudah pacaran dengan Keisya, berarti Adit benar-benar tidak bisa mengharapkan apa-apa lagi.

“Kita lihat aja nanti. Hari ini gue bakal bawa dia makan jagung bakar. Gue yakin, dia pasti beda sama cewek-cewek yang lain.” Senyum Justin yang begitu bahagia semakin menghancurkan hati Adit yang memang sudah hancur. Tapi Adit tetaplah Adit. Dia tidak akan melenyapkan senyuman sahabatnya hanya karena rasa egoisnya.

***

“Kita mau kemana, Just? Kok Adit nggak diajak?” Keisya menatap Justin yang sedang mengendarai mobilnya.

Suara debur ombak yang mengiringi perjalanan mereka membuat suasana begitu nyaman dan tentram. Keisya yang belum lama tinggal di kota ini baru pertama kali ke pantai. Dia sangat menikmati suasana pantai di sore hari. Banyak orang yang berjualan jagung bakar dan kelapa muda di pinggir jalan. Ada juga yang menyediakan tempat untuk bersantai-santai di pinggir pantai.

Sepertinya ombak pantainya terlalu besar, karena di pinggir pantai dibatasi dengan tembok tinggi dan batu-batu yang sangat besar. Keisya berharap semoga nanti Justin mengajaknya duduk di batu-batu itu. Asik kan bisa duduk di pinggir pantai sambil terkena percikan ombaknya?

“Justin, kok nggak dijawab?” Keisya kembali mentap Justin setelah puas memandangi pesisir pantai.

“Tadi gue udah ajak Adit, tapi dia nggak mau. Katanya dia ada latihan futsal sore ini. Eh, suka pantai kan? Kota ini objek wisatanya yang paling bagus ya pantai. ” Keisya tidak menjawab pertannyaan Justin. Tapi Justin pasti sudah tahu jawabannya dengan melihat ekspresi bahagia Keisya.

Justin memesan dua buah kelapa muda dan dua buah jagung bakar. Lalu mereka duduk di batu-batu yang ada di pinggir pantai. Justin sengaja langsung memesan jagung bakar tanpa bertanya dulu ke Keisya apakah dia suka atau tidak. Dia takut Keisya tidak suka dan rencananya langsung gagal.

Tanpa disangka, setelah pesanan jagung bakar datang, Keisya langsung melahap jagung itu tanpa ampun. Justin senang melihat Keisya yang tidak malu makan jagung bakar. Dia tidak seperti cewek-cewek yang selama ini menjadi pacar Justin. Keisya tidak takut kalau ada jagung yang akan tersangkut di giginya. Dia juga tidak takut mulut dan tanggannya akan berlepotan kena bumbu jagung bakar. Dan yang paling penting, Keisya tidak malu makan jagung bakar di depan seorang cowok. Cewek seperti inilah yang dicari Justin selama ini. Sekarang Justin benar-benar yakin bahwa Keisya lah cewek yang tepat dan yang akan menjadi pacarnya selanjutnya. Lagipula, Justin sudah tidak sanggup menahan gejolak virus merah jambu di hatinya.

“Kei, ada yang mau aku tanyain.” Justin memulai pembicaraan setelah mereka selesai makan jagung bakar. Kening Keisya sedikit berkerut mendengar gaya bicara Justin yang lebih sopan.

“Mau nanya apa?”

“Ehm… kamu… kamu…mau nggak jadi pacar aku?” Justin berusaha mengatakannya secepat mungkin. Entah kenapa kali ini dia susah sekali mengucapkan kata-kata itu. Padahal biasanya lancar-lancar saja.

“Eh?” Keisya yang kaget mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu tersedak saat sedang meminum kelapa mudanya. Justin menepuk-nepuk bahu Keisya yang masih terbatuk-batuk.

“Kamu nggak apa-apa?”

“Tadi apa? Pacar?” Keisya tidak menghiraukan pertanyaan Justin. Dia masih sedikit terbatuk-batuk. Justin menjawab pertanyaan Keisya dengan senyum khasnya yang selama ini selalu menbuat cewek-cewek jatuh hati padanya.

Tapi senyum Justin langsung hilang saat melihat wajah Keisya yang berubah menjadi murung. Apakah kali ini Justin akan merasakan bagaimana rasanya ditolak?

“E… Justin. Sorry, gue… gue nggak bisa. Gue menganggap lo sebagai teman gue, nggak lebih. Maafin gue, ya…”

Suara debur ombak yang terpecah di bebatuan tak terdengar lagi oleh Justin. Dia hanya bisa mendengar suara merdu gadis di depannya yang sekarang telah menghancurkan hatinya. Ternyata seperti ini rasanya di tolak. Seperti kantung teh yang segar lalu jadi lemas disiram air panas. Seperti sehelai tunas muda yang dipetik dan dibuang ke api yang menyala. Seperti itulah Justin saat ini.

“Just, gue bukannya nggak suka sama lo. Gue suka kok sama lo, tapi bukan sebagai pacar.” Keisya berusaha menghibur Justin yang wajah sedihnya baru pertama kali ini dilihat Keisya.

“Kenapa, Kei? Selama ini gue nggak pernah ditolak sama cewek. Jadi gue mau tahu kenapa lo nolak gue.” tatapan Justin lurus dan menusuk mata Keisya. Keisya merasa sangat bersalah melihat Justin sepeti ini.

“Ehm… gue… gue…” Keisya terdiam sejenak. Sepertinya dia sedang bimbang dan tidak tahu harus berkata apa ke Justin. “Berteman lebih baik, kan?” teriaknya tiba-tiba dengan senyum bahagia yang dibuat-buat. “Kalo pacar, pasti bakal ada putusnya. Tapi kalo teman, mana ada putusnya!!” melihat Justin tidak memberi respon, senyum yang dibuat-buat itupun hilang.

“Ya udah, gue terima keputusan lo. Semoga berteman memang lebih baik.” Justin melangkahkan kakinya menuruni bebatuan dan menyusuri pinggiran pantai. Tempat yang dipilih Justin memang ombaknya tidak terlalu besar.Keisya mulai sedikit tenang melihat perubahan Justin. Justin tersenyum seolah-olah tidak ada sesuatu yang baru saja terjadi. Keisya mengeluarkan kameranya dan mengabadikan moment ini.

***

Justin meregangkan tubuhnya di kursi. Dua jam belajar biologi membuat tubuhnya benar-benar penat. Dilihatnya Adit dan Keisya pergi ke luar kelas, mungkin mereka mau ke perpustakaan karena biasaya kalau mereka pergi berdua tanpa mengajak Justin berarti pergi ke perpustakaan. Mereka sangat mengerti membawa Justin ke perpustakaan berarti “hanya mampir” di perpustakaan bukan “masuk” ke perpustakaan. Karena Justin tidak akan pernah betah duduk dikelilingi buku-buku yang begitu banyak.

Dia melihat tas Keisya sedikit terbuka dan tali kamera menjuntai keluar. Teringat olehnya kemaren Keisya memotonya saat di pantai. Segera Justin beranjak ke bangku Keisya dan melihat foto-foto yang ada di kamera.

Tiba-tiba mulutnya ternganga saking terkejutnya melihat wajah seseorang di kamera itu. Bukan cuma satu tapi sangat banyak. Sedang tersenyum, tertawa, diam, marah dan masih banyak yang lainnya. Sekarang Justin tahu kenapa Keisya menolaknya. Dia segera berlari mencari Adit dan Keisya. Di dalam hatinya Justin bertekad akan membantu Keisya.

Ternyata tebakan Justin benar, mereka memang ada di perpustakaan. Dia segera menarik mereka ke luar dan membawa mereka ke suatu tempat yang sepi.

“Lo kenapa, man?” Adit yang bingung ditarik seperti itu hanya menurut disuruh duduk oleh Justin. Justin tidak menjawab pertanyaan Adit, dia menyerahkan kamera Keisya kepadanya.

Keisya segera menyadari apa yang terjdi. Dia hendak merebut kamera itu tapi tidak bisa karena Justin segera menahannya. Dia terus berusaha menggapai kameranya walaupun dia tahu tidak ada gunanya, karena Adit sudah melihat apa isi kameranya itu.

“Keisya suka sama lo.” Justin melepaskan Keisya yang sudah tidak memberontak lagi.

“Eh? Tapi kan kemaren lo…”

“Keisya nolak gue, dia suka sama lo.”

“Tapi…”

Keisya terduduk lemas mendengar perkataan Justin. Tapi terlihat senyum aneh diwajahnya.

“Tapi, Just… di sini juga banyak banget foto lo” ujar Adit sambil melihat foto-foto Justin di kamera. “Malah lebih banyak dari foto-foto gue.”

Justin yang heran segera merampas kamera dari tangan Adit dan terkejut melihat banyak sekali fotonya di sana. Dia bolak-balik melihat ke arah kamera dan Keisya. Sekarang dia benar-benar bingung. Kalau memang Keisya suka padanya, kenapa kemarin menolaknya.

“Hahaha…” tiba-tiba Keisya tertawa terbahak-bahak. “ Pada bingung kan? Makanya jangan suka ngambil kesimpulan sendiri. Foto kalian berdua itu memang banyak banget di sini. Nih lihat nih…” Keisya mengambil alih kameranya dari Justin dan menunjukkan foto-foto yang ada. Hampir seluruh memori kameranya penuh dengan foto-foto Adit dan Justin. Sepertinya ini semakin membuat dua orang cowok ini bingung.

“Adit, Justin, gue nganggap kalian itu sebagai sohib gue. Wajarkan kalo gue foto-foto kalian berdua. Lagian gue nggak bakal lama di sini, makanya gue nggak mau sampai ngelupain kalian walau waktu bareng kalian itu cuma sebentar.” Jelas Keisya.

“Terus kenapa lo nggak mau lihatin foto-foto itu ke kita?” tanya Justin to the point.

“Memangnya tadi lo nggak lihat foto-foto lo berdua itu pada aneh-aneh? Nih lihat Just, lo lagi molor. Kalo Adit ada yang lagi melongo saking seriusnya. Gimana kalo kalian ntar ngapus nih foto tanpa sepengetahuan gue? Gue kan bisa lupa sama momen-momen lucu ini…”

“Dasar lo, Kei!” Justin mengacak-acak rambut panjang Keisya yang kali ini tanpa aksesoris kuningnya. Keisya reflek menepis tangan Justin dan segera memperbaiki rambutnya yang sudah kusut.

Adit tersenyum melihat tingkah kedua temannya itu dan segera menarik Keisya kembali ke perpustakaan. Justin yang tidak mau ditinggal sendiri akhirnya menarik tangan keisya yang satu lagi ke arah kelas. Untuk sekian menit mereka bertahan dengan adegan tarik-menarik itu sampai Keisya sendiri yang berusaha melepaskan tangannya dan berjalan ke kantin. Justin yang senang langsung mengekor Keisya sambil mencibir ria ke Adit. Akhirnya Adit pun mengalah dan mengikuti kedua temannya.

Nah, audisi jagung bakar pun tetap berlanjut. Karena si pemenang tidak bisa menerima hadiahnya. Lalu, siapakah yang akan memenangkan audisi ini? Justin akan tetap mencari.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.852 pengikut lainnya

About Me


About gue??
Hmm, gue sering dibilangin kuper lah, pendiam lah, culun lah..terserah apa kata orang..
Gue ya gini,.cowok melankolis apa adanya..gue selalu berusaha untuk mempelajari sesuatu & berbuat yang terbaik untuk siapa saja, kapan saja, dan dimana saja..asal bisa nyenengin..

%d blogger menyukai ini: